Kamis, 30 Oktober 2008


Di halaman rumahku tumbuh sebatang pohon sawo. Entah sudah berapa tahun usianya. Yang jelas, ia tak pernah berbuah. Hanya berbunga. Seorang tetangga mengatakan bahwa pohon sawo ini adalah pohon laki-laki, yang tak akan pernah menghasilkan buah.
Tapi toh beberapa waktu yang lalu ia berbuah. Hanya dua saja. Sebuah diambil seorang tetangga, dan sebuah lagi kubiarkan terus bergantung, hingga jatuh sendiri pada akhirnya.
Menimpa plesteran rumah, buah itu retak terbuka dan air buahnya mengalir keluar. Kubelah, lalu kumakan. Manis sekali. Semanis penantian dan harapan, yang seringkali terasa terlalu lama...*




Bertahan Hidup

Gadis kecil ini tak memilih hidup macam apa yang dijalaninya.

Ia tinggal di sebuah pemukiman liar nan kumuh, di sebuah bantaran kali, di sebelah tempat pembuangan sampah. Hanya sekian puluh meter dari tempatnya duduk dan bermain, berdiri sebuah apartemen. Di sekitar apartemen itu ada supermarket, salon kecantikan, tempat makan dan jajaran ATM.

Sungguh situasi hidup yang kontras. Bersama sekitar 30 KK dipemukiman liar itu, si gadis kecil mencoba untuk bertahan hidup...*






Minggu, 17 Agustus 2008

Kembang Kemenangan




















































Interaksi Kali










Mengarungi Sungai Sampah


Bayangkan saja Venesia. Aku pernah punya mimpi untuk ke sana... mengarungi air di sekitar kota dengan menggunakan gondola yang indah.

Tapi Jakarta membuat Venesia benar-benar sekadar mimpi. Di Jakarta, saluran air sering mampet. Banjir. Kali kotor dan berbau tak sedap. Cobalah untuk menyusuri kali Jakarta. Perjalanan tersendat-sendat karena terhalang tumpukan sampah.

Lalu untuk apa Venesia? Seringkali, mimpi berguna untuk membuat kita kembali pada realitas dan mengupayakan perubahan...*

Pucuk-pucuk Hijau


Sabtu, 16 Agustus 2008

Pada Mulanya Adalah Kertas...

Bukan. Judul itu kurang tepat. Yang betul: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu dijadikan kertas. Kertas itu kemudian dibentuk menjadi kertas-kertas kado, dibuat untuk membungkus hadiah, dan sampai di tanganku.

Perjalanan yang panjang, bukan? Dari sebuah hutan entah di mana, lalu pada akhirnya sampai di tanganku. Setelah membuka kado, aku tercenung. Untuk apa kertas-kertas kado yang kusut dan robek-robek itu?

Membuangnya, sama saja dengan mengakhiri riwayat panjang sebuah perjalanan. Seperti yang kukatakan tadi: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu menjadi kertas, lantas... Ah, tak perlu mengulang, bila hanya hendak membuatnya lebih panjang!

Yang jelas, di tanganku, kertas bungkus hadiah yang kusut dan robek-robek itu kusatukan kembali, bahkan dari potongan-potongan yang berbeda, menjadi sehelai pembatas buku. Setidaknya, riwayatnya tidak berakhir di tumpukan sampah atau hangus bersama abu.

Barangkali, sama seperti perenungan penyair Goenawan Mohamad tentang sebuah periuk: kita selalu mencoba membuat abadi, semua yang kelak retak...*