Bukan. Judul itu kurang tepat. Yang betul: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu dijadikan kertas. Kertas itu kemudian dibentuk menjadi kertas-kertas kado, dibuat untuk membungkus hadiah, dan sampai di tanganku.Perjalanan yang panjang, bukan? Dari sebuah hutan entah di mana, lalu pada akhirnya sampai di tanganku. Setelah membuka kado, aku tercenung. Untuk apa kertas-kertas kado yang kusut dan robek-robek itu?
Membuangnya, sama saja dengan mengakhiri riwayat panjang sebuah perjalanan. Seperti yang kukatakan tadi: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu menjadi kertas, lantas... Ah, tak perlu mengulang, bila hanya hendak membuatnya lebih panjang!
Yang jelas, di tanganku, kertas bungkus hadiah yang kusut dan robek-robek itu kusatukan kembali, bahkan dari potongan-potongan yang berbeda, menjadi sehelai pembatas buku. Setidaknya, riwayatnya tidak berakhir di tumpukan sampah atau hangus bersama abu.
Barangkali, sama seperti perenungan penyair Goenawan Mohamad tentang sebuah periuk: kita selalu mencoba membuat abadi, semua yang kelak retak...*
2 komentar:
Salut buat kepedulian Mbak Helena..
Semoga selamanya berdansa dengan
alam raya..
SAVE THE TREE..!!
Salam Lestari..!!!
tulisane sampean inspiratif mbak,,suwon ya mbak,,makasih..
Posting Komentar