Minggu, 17 Agustus 2008

Kembang Kemenangan




















































Interaksi Kali










Mengarungi Sungai Sampah


Bayangkan saja Venesia. Aku pernah punya mimpi untuk ke sana... mengarungi air di sekitar kota dengan menggunakan gondola yang indah.

Tapi Jakarta membuat Venesia benar-benar sekadar mimpi. Di Jakarta, saluran air sering mampet. Banjir. Kali kotor dan berbau tak sedap. Cobalah untuk menyusuri kali Jakarta. Perjalanan tersendat-sendat karena terhalang tumpukan sampah.

Lalu untuk apa Venesia? Seringkali, mimpi berguna untuk membuat kita kembali pada realitas dan mengupayakan perubahan...*

Pucuk-pucuk Hijau


Sabtu, 16 Agustus 2008

Pada Mulanya Adalah Kertas...

Bukan. Judul itu kurang tepat. Yang betul: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu dijadikan kertas. Kertas itu kemudian dibentuk menjadi kertas-kertas kado, dibuat untuk membungkus hadiah, dan sampai di tanganku.

Perjalanan yang panjang, bukan? Dari sebuah hutan entah di mana, lalu pada akhirnya sampai di tanganku. Setelah membuka kado, aku tercenung. Untuk apa kertas-kertas kado yang kusut dan robek-robek itu?

Membuangnya, sama saja dengan mengakhiri riwayat panjang sebuah perjalanan. Seperti yang kukatakan tadi: pada mulanya adalah sebatang pohon, lalu menjadi kertas, lantas... Ah, tak perlu mengulang, bila hanya hendak membuatnya lebih panjang!

Yang jelas, di tanganku, kertas bungkus hadiah yang kusut dan robek-robek itu kusatukan kembali, bahkan dari potongan-potongan yang berbeda, menjadi sehelai pembatas buku. Setidaknya, riwayatnya tidak berakhir di tumpukan sampah atau hangus bersama abu.

Barangkali, sama seperti perenungan penyair Goenawan Mohamad tentang sebuah periuk: kita selalu mencoba membuat abadi, semua yang kelak retak...*